Kamis, 26 Juli 2012

PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORPSI OBAT



BAB I
PENDAHULUAN


Farmakologi merupakan sifat dari mekanisme kerja obat pada sistem tubuh termasuk menentukan toksisitasnya. Jalur pemakaian obat yang meliputi secara oral, rektal, dan parenteral serta yang lainnya harus ditentukan dan ditetapkan petunjuk tentang dosis-dosis yang dianjurkan bagi pasien dalam berbagai umur, berat dan status penyakitnya serta teknik penggunaannya atau petunjuk pemakaiannya.
Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk memberikan respons tertentu
Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan melalui rute tertentu yang nyaman dan aman seperti suatu obat yang memungkinan diberikan secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat.


BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM


II.1. Maksud dan Tujuan
         II.1.1.   Maksud
                            Maksud dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa cara pemberian obat terhadap absorpsi obat pada hewan uji.
         II.1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan cara cara pemberian obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya


BAB II
TEORI SINGKAT


Selain pemberian topikal untuk mendapatkan efek lokal pada kulit atau membran mukosa, penggunaan suatu obat hampir selalu melibatkan transfer obat ke dalam aliran darah. Tetapi, meskipun tempat kerja obat tersebut berbeda-beda, namun bisa saja terjadi absorpsi ke dalam aliran darah dan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Absorpsi ke dalam darah dipengaruhi secara bermakna oleh cara pemberian  (Katzung, 1986).
Cara-cara pemberian obat untuk mendapatkan efek terapeutik yang sesuai adalah sebagai berikut:
Cara/bentuk sediaan parenteral
a.    Intravena (IV) (Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, “onset of action” cepat, efisien, bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat yang menyebabkan iritasi kalau diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus kontinu untuk obat yang waktu-paruhnya (t1/2) pendek) (Joenoes, 2002).
b.   Intramuskular (IM) (“Onset of action” bervariasi, berupa larutan dalam air yang lebih cepat diabsorpsi daripada obat berupa larutan dalam minyak, dan juga obat dalam sediaan suspensi, kemudian memiliki kecepatan penyerapan obat yang sangat tergantung pada besar kecilnya partikel yang tersuspensi: semakin kecil partikel, semakin cepat proses absorpsi) (Joenoes, 2002). 
c.    Subkutan (SC) (“Onset of action” lebih cepat daripada sediaan suspensi, determinan dari kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan dimana terjadi penyerapan, menyebabkan konstriksi pembuluh darah lokal sehingga difusi obat tertahan/diperlama, obat dapat dipercepat dengan menambahkan hyaluronidase, suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari matriks jaringan) (Joenoes, 2002).
d.   Intratekal (berkemampuan untuk mempercepat efek obat setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pengobatan infeksi SSP yang akut) (Anonim, 1995).
e.    Intraperitonel (IP) tidak dilakukan pada manusia karena bahaya (Anonim, 1995).
Pemberian obat per oral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam absorpsi di saluran cerna) (Ansel, 1989).
Intinya absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak (Ansel, 1989).


BAB IV
METODE KERJA
 
   IV.1 Alat Dan Bahan
           IV.1.1 Alat yang digunakan
                                 Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1.      Jarum berujung tumpul (untuk per oral)
2.      Sarung tangan
3.      Spuit injeksi dan jarum (1-2 ml)
4.      Stop watch
           IV.1.2 Bahan Yang digunakan
                                 Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini :
1.      Alkohol 70 %
2.      Natrium penobarbital 3,5 % atau Natrium tiopental, 
Natrium heksobarbital
IV.2 Cara Kerja
1.      Mencit ditimbang dan diperhitungkan volume sediaan pentobarbital yang akan diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
2.      Sodium pentobarbital diberikan pada hewan uji dengan cara pemberian: oral, subkutan, intra muscular, intra peritoneal, dan intra vena.
3.      Perubahan-perubahan yang terjadi diamati dengan cermat yang mencakup waktu onset dan durasi dicatat.
4.      Data yang terkumpul dari masing-masing kelompok dianalisis menggunakan analisis varian



BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
  V.1 Hasil Praktikum
                     Dari pecobaan diperoleh waktu onset dan durasi :
      Tabel hasil kelompok I
Mencit
Bentuk sediaan
Stock (mg/ml)
Dosis/ mencit
Onset
Durasi
I
II
III
IV
V
Oral
i.v
i.p
s.c
i.m
5
5
5
5
20
35
35
35
35
35
55 : 44
37 : 09
42 : 52
37 : 09
24 : 25
18 : 53
-
04 : 22
14 : 08
21 : 24

Tabel hasil kelompok II
Mencit
Bentuk sediaan
Stock (mg/ml)
Dosis/ mencit
Onset
Durasi
I
II
III
IV
V
Oral
i.v
i.p
s.c
i.m
5
5
5
5
20
35
35
35
35
35
1 : 26 : 30
15 : 40
1 : 12 : 08
1 : 40 : 10
1 : 17 : 38
1 : 34 : 07
55 : 45
1 : 17 : 30
1 : 47 : 08
1 : 50 : 37

Tabel hasil kelompok III
Mencit
Bentuk sediaan
Stock (mg/ml)
Dosis/ mencit
Onset
Durasi
I
II
III
IV
V
Oral
i.v
i.p
s.c
i.m
5
5
5
5
20
35
35
35
35
35
48 : 18
25 : 14
39 : 42
42 : 26
30 : 00
25 : 39
34 : 46
21 : 88
27 : 16
50 : 00


Tabel hasil kelompok IV
Mencit
Bentuk sediaan
Stock (mg/ml)
Dosis/ mencit
Onset
Durasi
I
II
III
IV
V
Oral
i.v
i.p
s.c
i.m
5
5
5
5
20
35
35
35
35
35
25 : 18
20 : 48
10 : 42
24 : 37
15 : 28
1 : 02 : 15
53 : 16
21 : 15
27 : 53
42 : 00

Tabel hasil kelompok V
Mencit
Bentuk sediaan
Stock (mg/ml)
Dosis/ mencit
Onset
Durasi
I
II
III
IV
V
Oral
i.v
i.p
s.c
i.m
5
5
5
5
20
35
35
35
35
35
33 : 00
24 : 09
29 : 32
32 : 00
30 : 00
60 : 16
60 : 30
60 : 17
53 : 00
60 : 15


  V.2. Pembahasan

Praktikum kali ini mempalajari tentang pengaruh cara pemberian obat terhadap absorpsi obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Sekedar informasi, selanjutnya mencit hanya disebut sebagai hewan uji
Pemberian obat pada hewan uji yaitu pertama melalui cara oral, intravena, subkutan, intraperitoneal, dan intramuscular. Dengan cara oral (pemberian obat melalui mulut masuk kesaluran intestinal) digunakan jarum injeksi yang berujung tumpul agar tidak membahayakan bagi hewan uji. Kedua, pemberian obat dilakukan dengan cara intravena yaitu dengan menyuntikkan obat pada daerah ekor (terdapat vena lateralis yang mudah dilihat dan dapat membuat obat langsung masuk kepembuluh darah). Ketiga, yaitu dengan cara subkutan (cara injeksi obat melalui tengkuk hewan uji tepatnya injeksi dilakukan dibawah kulit). Keempat dengan cara intraperitoneal (injeksi yang dilakukan pada rongga perut. Cara ini jarang digunakan karena rentan menyebabkan infeksi). Yang kelima atau yang terkhir adalah dengan cara intramuscular yaitu dengan menyuntikkan obat pada daerah yang berotot seperti paha atau lengan atas.
Dosis obat yang diberikan yaitu 35 mg/kgBB hewan uji. Untuk stock larutan, pada per oral, intravena, intraperitoneal, dan subkutan menggunakan larutan 5 mg/ml. Sedangkan untuk injeksi intramuscular menggunakan larutan dengan stock 20 mg/ml. untuk data kelompok I, volume injeksi untuk oral, intravena, intraperitoneal, subkutan, dan intramuscular secara berturut-turut adalah 0,3 ml; 0,15 ml; 0,15 ml; 0,13 ml dan 0,1 ml. Perhitungan volume injeksi yang diberikan berdasarkan berat badan tiap hewan uji sehingga diperoleh hasil yang berbeda.
Dari hasil pengamatan kelompok-kelompok, diperoleh onset dan durasi yang berbeda. Onset merupakan waktu mulai timbulnya efek setelah pemberian obat. Durasi adalah waktu lamanya efek sampai efek obat tersebut hilang. Dari pengamatan kelompok I, berdasarkan onsetnya, injeksi dengan cara intramuscular memiliki waktu yang tercepat dan yang paling lambat adalah injeksi dengan pemberian oral. Dari pengamatan kelompok II, III, IV dan V berdasarkan onsetnya, injeksi dengan intravena memiliki waktu yang cepat dan yang paling lambat yaitu injeksi dengan cara oral. Dari data-data diatas dapat kita ketahui bahwa cara intravena merupakan cara pemberian obat yang reaksinya paling cepat dan yang paling lambat adalah cara oral. Cara intravena yaitu cara pemberian obat langsung masuk kepembuluh darah, sehingga cara ini tentu saja lebih cepat memberikan efek karena tidak melalui proses absorbsi dulu untuk masuk kesistem sistemik dari pada cara-cara injeksi yang lain. Sedangkan cara oral merupakan cara pemberian obat melalui pencernaan sehingga prosesnya berjalan lambat. Namun seperti kita lihat pada data, hanya kelompok I yang memiliki onset yang tercepat dengan pemberian intramuscular. Hal ini mungkin dikarenakan terjadinya penambahan dosis menjadi dua kali lipat dari seharusnya yaitu menjadi 0,26 ml.
Untuk durasinya, hasil pengamatan kelompok I, II dan IV efek obat yang paling cepat hilang yaitu cara intraperitoneal dan yang efeknya lama yaitu cara intramuscular. Untuk kelompok III, efek obat yang paling cepat hilang adalah cara intravena dan yang paling lama efek obatnya dengan cara intramuscular. Sedangkan untuk kelompok V cara pemberian dengan intraperitoneal memiliki efek yang cepat hilang sedangkan cara oral yang efeknya paling lama hilangnya.
Secara deskriptif  perbandingan data kelas yang menggunakan H0 = semua cara pemberian memberikan efek sama. Jika sig > 0,05 maka H0 diterima, dan jika sig < 0,05 kama H0 ditolak.
Perbandingan data kelas didapatkan sig 0,431 pada onset, dan 0,857 pada durasi. Keduanya lebih dari 0,05 sehingga H0 diterima yaitu semua cara pemberian memberikan efek yang sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum berbagai cara pemberian (p.o, i.m, i.v, i.p) pada hasil percobaan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada taraf nyata 95% (p < 0,05).



BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1  Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut :
1.       Secara garis besar yaitu empat dari lima kelompok menunjukkan pemberian obat dengan cara intravena lebih cepat  daripada cara-cara lainnya dalam hal menimbulkan efek.
2.       Tiga dari lima kelompok membuktikan pemberian dengan cara intramuscular memiliki durasi yang lama.
3.       Peningkatan dosis dapat mempengaruhi onset dan durasi yang dihasilkan dari pada dosis awal yang diberikan.
4.       Secara umum berbagai cara pemberian (p.o, i.m, i.v, i.p) pada hasil percobaan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada taraf nyata 95% (p < 0,05).

VI.2 Saran

Agar praktikum berjalan lancar hendaknya ada bimbingan khusus dari para asisten mengenai prosedur kerja dan alat serta bahan yang akan digunakan sehingga praktikan tidak lagi bolak-balik ruang praktikum hanya sekedar mangambil alat dan lainnya.
Mari kita bersama-sama menciptakan suasana praktikum yang menyenangkan. Karena hanya dengan belajar yang menyenangkan semua dapat menangkap materi dengan optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh., 2000, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, hal.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi,IV, Depkes RI, Jakarta, hal.
Ansel, Howard.C., 1989 Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Universitas Indonesia Press, Jakarta,hal.
Joenoes, Z. N., 2002, Ars Prescribendi Jilid 3, Airlangga University Press, Surabaya, hal.
Katzung, Bertram. G., 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta, hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar